10 Puisi Wiji Thukul Yang Menggetarkan Hati

Halo sahabat sajak!

Bagaimana kabarnya?

Semoga sehat selalu, kali ini kami akan berbagi sedikit informasi tentang 10 Puisi Wiji Thukul Yang Menggetarkan Hati. Sudah penasaran? Baik langsung saja!

10 Puisi Wiji Thukul Yang Menggetarkan Hati – Memilih 10 puisi yang masuk ke dalam artikel ini adalah hal yang begitu sulit, bagaimana tidak, ada ratusan puisi karya dari Wiji Thukul dan semuanya sangat menggetarkan hati. Aktivis buruh ini meluapkan segala amarahnya di setiap bait yang ada. Puisi-puisi yang bertema tentang kerakyatan inilah yang menggetarkan hati kita. Bahwa ada kehidupan yang tak kita lihat, ada kehidupan yang tak mampu kita rasakan.

Puisi: Pengertian Puisi

Dalam puisi-puisinya, ia mengupas kehidupan rakyat kecil yang tertekan oleh sistem dan pemimpin negara orde baru. Dengan kehidupannya yang terbatas namun kemerdekaannya tak pernah dihilangkan.

10-puisi-wiji-thukul-yang-menggetarkan-hati-versi-lelahbersajak
https://ebooks.gramedia.com/blog/content/images/2019/09/wiji-thukul-2.jpg

10 Puisi Wiji Thukul Yang Menggetarkan Hati

#1. Bunga dan Tembok

Bunga dan Tembok

Seumpama bunga

Kami adalah bunga

Yang tak kaukehendaki tumbuh

Engkau lebih suka

Membangun rumah dan merampas tanah

 

Seumpama bunga

Kami adalah bunga

Yang tak kaukehendaki adanya

Engkau lebih suka membangun

Jalan raya dan pagar besi

 

Seumpama bunga

Kami adalah bunga

Yang dirontokkan di bumi kami sendiri

 

Jika kami bunga

Engkau adalah tembok itu

Tapi di tubuh tembok itu

Telah kami sebar biji-biji

Suatu saat kami akan tumbuh bersama

Dengan keyakinan engkau harus hancur!

 

Dalam keyakinan kami

Di mana pun tirani harus tumbang!

Solo, 87-88

 

#2. Sajak Anak-anak

Sajak Anak-anak

Anak-anak kecil

Bermain di jalan-jalan

Kehilangan tanah lapang

Pohon tumbang

Tembok didirikan

Kiri-kanan menyempit

Anak-anak terimpit

 

Anak-anak itu anak-anak kita

Ingatlah ketika kau mendirikan rumah

Ingatlah ketika kau menancapkan

Pipa pabrik

 

Anak-anak kecil berdesakan

Sepak bola di jalan-jalan

Bila jendela kacamu berantakan

Tengoklah anak-anak itu

Pandanglah pagar besimu

Sungguh luas halaman rumahmu

Solo, 9 juni 87

  

#3. Peringatan

Peringatan

Jika rakyat pergi

Ketika penguasa pidato

Kita harus hati-hati

Barangkali mereka putus asa

Kalua rakyat bersembunyi

Dan berbisik-bisik

Ketika membicarakan masalahnya sendiri

Penguasa harus waspada dan belajar mendengar

Bila rakyat berani mengeluh

Itu artinya sudah gawat

Dan bila omongan penguasa

Tidak boleh dibantah

Kebenaran pasti terancam

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang

Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan

Dituduh subversive dan mengganggu keamanan

Maka hanya ada satu kata: lawan!

Solo, 86

https://blue.kumparan.com/image/upload/fl_progressive,fl_lossy,c_fill,q_auto:best,w_640/v1483767049/jvxru6ve6jrkz0ekafwb.jpg

#4. Satu Mimpi Satu Barisan

Satu Mimpi Satu Barisan

Di lembaga ada kawan sofyan

Jualan bakso kini karena dipecat perusahaan

Karena mogok karena ingin perbaikan

Karena upah, yak arena upah

 

Di ciroyom ada kawan sodiyah

Si laki terbaring di amben kontrakan

Buruh pabrik the

Terbaring pucat dihantam tipus

Ya dihantam tipus

Juga ada neni

Kawan bariah

Bekas buruh pabrik kaus kaki

Kini jadi buruh di perusahaan lagi

Dia dipecat, ya dia dipecat

Kesalahannya: karena menolak

Diperlakukan sewenang-wenang

 

Di cimahi ada kawan udin buruh sablon

Kemarin kami datang dia bilang

Umpama dirontgen pasti tampak

Isi dadaku ini pasti rusak

Karena amoniak, ya amoniak

Di cigugur ada kawan siti

Punya cerita harus lembur sampai pagi

Pulang lunglai lemas ngantuk letih

Membungkuk 24 jam

Ya, 24 jam

 

Di majalaya ada kawan eman

Buruh pabrik handuk dulu

Kini luntang-luntung cari kerjaan

Bini hamil tiga bulan

Keslahan: karena tak sudi

Terus diperah seperti sapi

 

Di mana-mana ada sofyan, ada sodiyah, ada bariyah

Tak bisa dibungkam kodim

Tak bisa dibungkam popor senapan

Di mana-mana ada neni, ada udin, ada siti

Di mana-mana ada eman

Di bandung, solo, Jakarta, Tangerang

Tak bisa dibungkam kodim

Tak bisa dibungkam popor senapan

Satu mimpi

Satu barisan

Bandung, 21 mei 92

 

Puisi: Stasiun Penantian

 

#5. Nyanyian Abang Becak

Nyanyian Abang Becak

Jika harga minyak mundhak

Simbok semakin ejeg berkelahi sama bapak

 

Harga minyak mundhak, Lombok-lombok akan mundhak

Sandang pangan akan mundhak

 

Maka terpaksa tukang-tukang lebon,

Lintah darat, bank plecit, tukang kredit harus dilayani

 

Siapa tidak marah bila kebutuhan hidup semakin mendesak

Seribu lima ratus uang belanja tertinggi dari bapak untuk

Simbok

 

Siapa bisa mencukupi

Sedangkan kebutuhan hidup semakin mendesak

 

Maka simbok pun mencak-mencak

“pak, pak, anak kita kebacut metu papat lho!”

“bayaran sekolahnya anak-anak nunggak lho!”

 

“si penceng muntah-ngising, perutku malah sudah isi lagi

 dan suk selasa pon ana sumbangan maneh si sebloh dadi manten!”

jika bbm kembali menginjak

namun juga masih disebut langkah-langkah kebijaksanaan

maka aku tidak akan lagi memohon pembangunan

nasib

kepadamu, duh pangeran, duh gusti

sebab nasib adalah permainan kekuasaan

 

lampu butuh menyala, menyala butuh minyak

 perut butuh kenyang, kenyang butuh diisi

namun bapak Cuma abang becak!

 

Maka apabila becak pusaka keluaraga pulang tanpa

Membawa uang

Simbok akan kembali mengajak berkelahi bapak

Solo, 84

 

#6. Puisi Menolak Patuh

Puisi Menolak Patuh

Walau penguasa menyatakan keadaan darurat

Dan memberlakukan jam malam

Kegembiraanku tak akan berubah

Seperti kupu-kupu

Sayapnya tetap indah

Meski air kali keruh

Pertarungan para jendral

Tak ada sangkut-pautnya

Dengan kebahagiaanku

Seperti cuaca yang kacau

Hujan, angin kencang, serta terik panas

Tidak akan mempersempit atau memperluas langit

Lapar tetap lapar

Tentara di jalan-jalan raya

Pidato kenegaraan atau siaran pemerintahan

Tentang kenaikan pendapatan rakyat

Tidak akan mengubah lapar

Dan terbitnya kata-kata dalam diriku

Tak bisa dicegah

Bagaimana kau akan membungkamku?

Penjara sekalipun

Tak bakal mampu

Mendidikku jadi patuh

17 januari 97

 

#7. Suti

Suti

Suti tdak pergi kerja

Pucat ia duduk dekat ambennya

Suti di rumah saja

Tidak ke pabrik tidak ke mana-mana

Suti tidak ke rumah sakit

Bentuknya memburu

Dahaknya berdarah

Tak ada biaya

 

Suti kusut-masai

Di benaknya menggelegar suara mesin

Kuyu matanya membayangkan

Buruh-buruh yang berangkat pagi

Pulang petang

Hidup pas-pasan

Ganjil kurang

Dicekik kebutuhan

 

Suti meraba wajahnya sendiri

Tubuhnya makin susut saja

Makin kurus menonjol tulang pipinya

Loyo tenaganya

Bertahun-tahun diisap kerja

 

Suti batuk-batuk lagi

Ia ingan kawannya

Sri yang mati

Karena rusak paru-parunya

 

Suti meludah

Dan lagi-lagi darah

 

Suti memejamkan mata

Suara mesin kembali menggemuruh

Bayangan kawannya bermunculan

Suti menggeleng

Tahu mereka dibayar murah

 

Suti meludah

Dan lagi-lagi darah

 

Suti merenungi resep dokter

Tak ada uang

Tak ada obat

Solo, 27 februari 88

 

#8. Tong Potong Roti

Tong Potong Roti

Tong potong roti

Roti campur mentega

Belanda sudah pergi

Kini datang gantinya

 

Tong potong roti

Roti campur mentega

Belanda sudah pergi

Bagi-bagi tanahnya

 

Tong potong roti

Roti campur mentega

Belanda sudah pergi

Siapa beli gunungnya

 

Tong potong roti

Roti campur mentega

Belanda sudah pergi

Kini Indonesia

 

Tong potong roti

Roti campur mentega

Belanda sudah pergi

Kini siapa yang punya

kalangan-solo, april 89

 

#9. Jalan Slamet Riyadi Solo

Jalan Slamet Riyadi Solo

Dulu kanan dan kiri jalan ini

Pohon-pohon asam besar melulu

Sabar lebaran dengan teman sekampung

Jalan berombongan

Ke taman sriwedari nonton gajah

Banyak yang berubah kini

Ada Holland bakery

Ada diskotek, ada taksi

Gajahnya juga gedung tegak lurus

Hanya kereta api itu

Masih hitam legam

Dan terus mengerang

Memberi peringatan pak-pak becak

Yang nekat potong jalan

“hei, hati hati

Cepat menepi ada polisi

Banmu digemboskan lagi nanti!”

solo, mei-juni 91

 

#10. Sajak Suara

Sajak Suara

Sesungguhnya suara itu tak bia diredam

Mulut bisa dibungkam

Namun siapa mampu menghentikan nyanyian bimbang

Dan pertanyaan-pertanyaan dari lidah jiwaku

Suara-suara itu tak bisa dipenjarakan

Di sana bersemayam kemerdekaan

Apabila kau memaksa diam

Aku siapkan untukmu pemberontakan!

Sesungguhnya suara itu bukan perampok

Yang ingin menjarah hartamu

Ia ingin bicara

Mengapa kaukokang senjata

Dan gemetar ketika suara-suara itu

Menuntut keadilan?

Sesungguhnya suara itu akan menjadi kata

Ialah yang mengajari aku bertanya

Dan pada akhirnya tidak bisa tidak

Engkau harus menjawabnya

Apabila engkau tetap bertahan

Aku akan memburumu seperti kutukan!

 

Itulah 10 Puisi Wiji Thukul Yang Menggetarkan Hati, tinggalkan komentar jika sahabat sajak suka dengan artikel di atas atau ingin memberikan masukan? Sangat dipersilahkan! Jangan lupa berbagi informasi ini kepada teman kalian!

“Mari panjangkan kembali umur perjuangan Jangan sebentar berapi kemudian menjadi debu tak berarti”

Umamnih

Sumber: Buku Nyanyian Akar Rumput – Wiji Thukul

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here