3 Model Pembelajaran

3-model-pembelajaran
Image by MJ555 from Pixabay

Halo sahabat sajak!

Bagaimana kabarnya?

Semoga sehat selalu, kali ini kami akan berbagi sedikit informasi tentang 3 Model Pembelajaran. Sudah penasaran? Baik langsung saja!

3 Model Pembelajaran – Pembelajaran dapat dikatakan sebagai hasil dari memori, kognisi, dan metakognisi yang berpengaruh terhadap pemahaman.

1. Model Gardner

Howard gardner terkenal dengan Model Kecerdasan Berganda (Multiple Intelligence Model). Pertanyaan paradigmatik Gardner bukanlah ‘seberapa cerdas seorang anak, melainkan bagaimana anak ini cerdas?’

6-model-pembelajaran
https://steemitimages.com/DQmSBJ8ZCHNxLt1qUj6V8n784kC1yFdaF8Bw9XWc84oqaBV/3b7a00e90b66ea9f4823305cb1410008.png

Teori kecerdasan berganda dikembangkan pada 1983 oleh Dr. Howard Gardner, profesor pendidikan di Harvard University. Teori ini menegaskan bahwa gagasan tradisional tentang kecerdasan, yang didasarkan pada ujian IQ, terlalu terbatas. Untuk itulah, Dr. Gardner mengajukan delapan kecerdasan berbeda untuk mengcover sejumlah potensi manusia dalam diri anak-anak dan orang dewasa.

Baca: Aliran-aliran Sastra Dalam Puisi

1). Kecerdasan matematis-logis (“kecerdasan angka/nalar”) – Wilayah kecerdasan ini berkaitan dengan logika, abstraksi, penalaran, angka-angka, dan berpikir kritis. Kecerdasan ini juga meliputi kemampuan untuk memahami prinsip-prinsip yang mendasari sistem kausal.

2). Kecerdasan spasial (“kecerdasan piktoral/gambar”) – Wilayah kecerdasan ini berkaitan dengan penilaian spasial dan kemampuan menvisualisasikan mata pikiran. Kemampuan spasial merupakan salah satu faktor bawaan lahir dalam model kecerdasan hierarkis.

3). Kecerdasan linguistik (“kecerdasan kata-kata”) – Mereka yang memiliki kecerdasan linguistik-verbal akan mampu menunjukkan kecakapan berkata-kata dan berbahasa.

4). Kecerdasan kinestetik-jasmani (“kecerdasan tubuh”) – Salah satu elemen kunci kecerdasan kinestetik adalah kontrol terhadap gerakan-gerakan tubuh dan kemampuan menangani objek-objek dengan baik. Kecerdasan ini meliputi kemampuan efektivitas waktu, kemampuan menakar tujuan aktivitas fisik, selain kemampuan untuk melatih respons.

5). Kecerdasan musikal (“kecerdasan musik”) – Kecerdasan yang satu ini berkaitan dengan sensitivitas terhadap suara, ritme, bunyi, dan musik. Orang-orang yang memiliki kecerdasan musik yang tinggi akan mampu menyanyi, memainkan instrumen musik,dan bahkan mengkomposisi musik.

6). Kecerdasan interpersonal (“kecerdasan berelasi dengan orang lain”) – Kecerdasan ini berkaitan dengan kecakapan dalam berinteraksi dengan orang lain.

7). Kecerdasan intrapersonal (“kecerdasan diri”) –  Kecerdasan ini berkaitan dengan kapasitas introspektif dan refleksif diri. Mereka yang memiliki kecerdasan intrapersonal biasanya memiliki pemahaman mendalam tentang dirinya; apa saja kekuatan dan kelemahannya, apa yang membuatnya unik, dan mampu memprediksi emosi dan reaksinya sendiri.

8). Kecerdasan naturalistik (“kecerdasan alam”) – Kecerdasan ini berkaitan dengan bagaimana seseorang mampu menghubungkan informasi yang dimiliki dengan kondisi sekitarnya.

Selain kedelapan kecerdasan di atas, para pendukung Gardner juga sering kali memasukkan kecerdasan eksistensial. Kecerdasan ini berkaitan dengan kecerdasan spiritual dan religius. Gardner pada hakikatnya tidak terlalu tertarik pada kecerdasan ini, tetapi ia menegaskan bahwa kecerdasan eksistensial mungkin bisa menjadi konstruk yang berguna untuk pembelajaran saat ini.

Baca: Pengertian Puisi

2. MODEL BLOOM

Ranah kognitif melibatkan pengetahuan dan pengembangan skill-skill intelektual. Benjamin BLoom (1956) mengidentifikasi ranah ini dengan Model Taksonomi Ranah Kognitif (Taxonomy of the Cognitive Domain Model). Ranah ini mencakup ingatan atau pengenalan terhadap fakta-fakta tertentu, pola-pola prosedural, dan konsep-konsep yang memungkinkan berkembangnya kemampuan dan skill intelektual.

Gambar Taksonomi Kognitif Bloom

1). Pengetahuan (Knowledge)
Pada tahap ini, siswa mengingat data atau informasi.

2). Pemahaman (Comprehesion)
Pada tahap ini, siswa mampu menyatakan suatu masalah dengan caranya sendiri.

3). Penerapan (Application)
Pada tahap ini, individu bisa menerapkan apa yang telah dipelajari di ruang kelas ke dalam situasi-situasi yang rumit di tempat kerja.

4). Analisis (Analysis)
Pada tahap ini, individu mampu membedakan antara fakta dan dugaan.

5). Sintesis (Synthesis)
Pada tahap ini, individu mampu menggabungkan berbagai macam bagian ke dalam satu keseluruhan, dengan menekankan pada upaya menciptakan makna atau struktur yang baru.

6). Evaluasi (Evaluation)
Pada tahap ini, individu sudah bisa membuat penilaian tentang nilai suatu gagasan.

3. Model KOLB

http://3.bp.blogspot.com/_WBmNsBt4aMA/TQs0IKg025I/AAAAAAAABtM/eZU5-G-DjF4/s1600/kolblearningstylesdiagram.jpg

Model pembelajaran David Kolb didasarkan pada Teori Pembelajaran Eksperiensial (Experiential Learning Theory). Model ELT menggarisbawahi dua pendekatan yang saling berkaitan dalam memahami pengalaman: Pengalaman Konkret dan Konseptualisasi Abstrak, serta dua pendekatan dalam mengubah pengalaman: Observasi Reflektif dan Eksperimentasi Aktif. Keempat pendekatan tersebut antara lain sebagai berikut.

1). Konvergen – Siswa yang memiliki gaya pendekatan konvergen umumnya ditandai oleh kemampuan melakukan konseptualisasi abstrak dan eksperimentasi aktif. Mereka cukup bagus dalam mempraktikkan gagasan-gagasan dan menggunakan nalar deduktif untuk memecahkan masalah.

2). Divergen – Mereka yang memilih gaya belajar divergen cenderung lebih suka pada pengalaman konkret dan observasi reflektif. mereka imajinatif dan terampil dalam memunculkan ide-ide dan melihat segala sesuatu dari perspektif yang berbeda.

3). Asimilasi – Mereka yang berpikir asimilatif biasanya lebih menyukai konseptualisasi abstrak dan observasi reflektif. mereka mampu menciptakna model-model teoritis secara induktif.

4). Akomodasi – Mereka yang kemampuan akomodasinya tinggi cenderung menggunakan pengalaman konkret dan ekspermentasi aktif. Mereka sangat terampil melibatkan dirinya dengan dunia dan lebih memilih melakukan sesuatu dari pada sekadar membaca dan menelaahnya.

Itulah 3 Model Pembelajaran, tinggalkan komentar jika sahabat sajak suka dengan artikel di atas atau ingin memberikan masukan? Sangat dipersilahkan! Jangan lupa berbagi informasi ini kepada teman kalian!

“Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mbangun karso, tut wuri handayani”

Ki Hajar Dewantara

Sumber:

Model-model Pengajaran dan Pembelajaran – Miftahul Huda, M.Pd. (Penulis Bestseller Cooperative Learning)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here