Surga Yang Kehilangan Pemiliknya [Cerpen]

Karya: Mohammad Robby

”Negeri ini penuh cinta, langitnya biru muda dengan awan seputih salju, di bawahnya pohon-pohon dengan daun berwarna-warni meliuk-liuk dihembus angin. Bunga-bunga pun tak kalah semarak menghias permukaan tanah. Serangga dan burung terbang tanpa lelah dari pohon ke bunga lalu menyelam didalam awan. Negeri ini memang indah, semua berada dalam dunia.” –ucap ibu saat itu

Di seberang kampungku ada jalan bagus, berlalu lalang mobil mewah. Ada yang berwarna merah bahkan kuning seperti kelipan emas yang harganya mahal walau di ambil dari tanah sendiri. Mobil-mobil itu menghempaskan angin kencang ke kanan dan kiri sampai seekor burung pun tak mau terbang di atasnya, karna takut terhempas angin kencang dari hembusan mobil mewah tersebut. Di seberang jauh di sana terdapat rumah dan gedung mewah dengan pagar beton mengelilinginya, Aku melihat begitu elok dengan bentuk seperti rumah di eropa, tak hayal memang isi rumah tersebut adalah tamu jauh dari berbagai negara.


Baca Juga: Sajak-sajak WS Rendra Yang Melegenda


Karena terbatas dengan pagar beton yang dibuatnya, Aku tidak bisa masuk ke sana, tapi itu tidak mematahkan semangatku untuk datang dan masuk kedalam sana. Setiap sore sambil melihat senja di atas rumah pohon yang kubuat, Aku membayangkan ada di perumahan dan gedung kota. Berdiri dan bermain bersama atau bahkan bisa memainkan games dengan teknologi yang katanya sudah merajarela, karna dikampungku teknologi belum ada, bahkan alat komunikasipun jarang orang punya.

Suara azan yang sekaligus menandakan waktunya untuk pulang kerumah, Aku temui Ibu yang selalu duduk di depan rumah bersandar pada pohon kelapa yang di jadikan teman untuk menungguku datang sehabis melihat negeri tercinta.

“apa yang sudah kau lihat hari ini nak” tanya ibu

“Hari ini aku melihat senja di atas rumah kita sambil kubayangkan berada di gedung kota seberang sana”, jawabku.

Ibu menjawab “bukankah indah negeri ini nak”

lalu Aku bilang “negeri ini memang indah, pun penuh cinta sampai bisa kurangkum dalam kata lalu kutulis di rumah pohon tempatku melihat desa dan kota”,

Ibuku hanya tersenyum sambil berjalan memasuki rumah yang kusebut surga.

Sebelum tertidur, biasanya aku duduk di kursi kayu depan rumah ditemani bulan yang sangat romantis dengan setitik cahaya di sekitarnya. Beberapa langkah dari rumah terlihat jalan yang hampir 24 jam tidak pernah sepi dari mobil-mobil mewah, tapi tidak seperti di siang hari yang hanya mobil mewah namun di malam hari terlihat ada mobil besar tingginya seperti rumahku kira-kira, bukan hanya satu tapi hampir 10 sudah kulihat berjalan beriringan.

Semakin malam jalan itu padat pun tak beraturan, terlihat lelaki tua memakai topi yang sudah hampir basah dengan air keringatnya, berjalan memakai sandal sederhana yang antara kiri dan kanan berbeda warna, tangannya memegang air minum berbentuk botol dengan berbagai rasa, teriaknya menawarkan jualannya kepada supir-supir yang hampir tak membuka kaca mobilnya sedikitpun.

“Air, air, air pak, bu” teriak sipedagang itu.

Begitulah suasana di perbatasan antar kampung dan kota yang dipotong dengan jalan besar, suara malam yang semakin lama menjadi sunyi dan hampa, aku berjalan kembali ke rumah dengan harapan esok pagi bisa kembali melihat dan mendapatkan cerita. Tepat di waktu subuh suara merdu azan berkumandang masuk dalam frekuensi disetiap rumah warga, tak hayal semua bergegas datang ke masjid tempat indah untuk beribadah, di sana aku bertemu dengan Indra.


Baca Juga: Rampai Sajak #1


“hei Syakir apa kabarmu sahabat” tanya Indra

“Aku baik selalu ndra, kalau kamu bagaimana” Jawabku.

Indra – “seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja Syakir”

“sudah lama kita tidak main bersama dan duduk bercerita di rumah pohon di dekat perbatasan kota” tanya ku ke Indra sambil menunjuk ke arah rumah pohon.

“Aku sering pergi ke kota yang kemarin sering kita bicarakan, di sana sangatlah berbeda dengan kampung kita, Aku beberapa kali pergi bersama bapak untuk melihat-lihat isi kota” jawab indra dengan wajah serius.

Obrolan pagi itu mengisi ruang imajinasiku dalam merangkum cerita untuk hari ini, suara ayam berkokok menandakan bahwa aktivitas kita dimulai untuk hari ini. aku dan indra kembali kerumah masing-masing, bersiap ke sekolah tempat untuk mendapatkan pendidikan dan masa depan, berangkat ke sekolah aku tempu dengan menaiki perahu kayu dengan tali tersambung antara dua sisinya, seorang remaja yang memegang bambu panjang mendorong perahu itu untuk berjalan ke arah sisi lain kali tersebut. Sampai di sekolah belajar seperti biasa dengan motivasi yang diberikan guru agar hidup kita jauh lebih baik pada hari ini.

Jam 4 sore aku bergegas pulang ke rumah pohon di dekat jalan besar pinggir kota, Aku tandai sisi pohon dengan tanggal hari ini yang hampir sudah penuh dengan cerita yang pernah aku alami. Tanggal 9 januari ternyata menjadi hari kebahagianku karna Indra sahabatku mengajak pergi ke kota yang selama ini aku pandang hanya dengan mata dan imajinasi.

“Syakir, cepat turun kita pergi ke kota bersama Ayahku” panggil Indra dengan kencang.

Dengan gegabah aku turun meninggalkan tulisan yang belum selesai, sudah diputuskan akan Aku lanjutkan nanti setelah pulang dari kota. Selama perjalanan obrolan tentang kota sudah sampai dalam otakku,

“membayangkan berada di tengah kota, melihat orang-orang berjalan dengan tertawa, bersandar di bawah pohon sambil bersenang-senang bersama keluarga, membayangkan senja berada di tengah gedung tinggi yang menjadikannya perpaduan harmonisasi luar biasa”- Itulah khayalanku tentang kota.

Tapi benar kata Ibuku “dunia tidak selalu sama seperti yang kita bayangkan”.

Sampai tepat di tengah kota, berdiri dengan rasa kecewa sambil memegang erat pulpen teman yang menjadi saksi setiap tulisan bahagia saat di rumah pohon pinggir jalan perbatasan kota. Tak ada pohon rindang yang sama seperti dekat rumah, di kota pohon diganti dengan tiang tiang besar dengan layar televisi penuh gambar diatasnya. Tak ada keluarga yang menghabiskan waktun untuk bersenang-senang bersama anaknya sambil melihat senja, ternyata di kota hanya ada ibu menggendong anaknya bersandar pada tembok-tembok kumuh atau bahkan tiduran dengan alas kardus di setiap gang dengan pakaian yang sudah hampir tak berwarna. Setiap matanya bukan terlihat bahagia melainkan menjerit menderita.

Anak kecil di kota tidak sepertiku yang setiap sore bisa melihat senja di atas rumah pohon. melainkan bekerja di bawah lampu lalu lintas berwarna tiga dengan memegang gitar bernyanyi lantang tentang kehidupan di kota. Orang-orang berkulit cerah dengan pakaian rapih menutupi seluruh badannya berjalan asik sambil memegang koper di tangan kanannya, jarang kulihat penduduk pribumi di kota. Semua ini sangatlah berbeda dengan apa yang aku bayangkan di rumah pohon. Bahkan senja yang menjadi kesukaanku pun tak ada. Rasa kecewa semakin dalam karna sesampainya dirumah, aku tidak bisa duduk dan melanjutkan cerita di rumah pohon pinggir perbatasan kota.

Malam itu Aku sampaikan kekecewaan pada bulan dan bintang, tentang kota yang berbanding terbalik dengan imajinasiku, bertambah sedihnya malam itu Aku merasa hampa tanpa teman yaitu pulpen yang belum menulis cerita hari ini, terjeda cerita yang tadi sore sempat aku tinggal di rumah pohon pinggir perbatasan kota, Aku ucapkan selamat malam pada bulan dan bintang beriringan dengan doa agar esok bisa bertemu kembali dalam malam yang sunyi.

Pagi hari Ibu membangunkan saat aku bermimpi indah tentang rumah surga, tak aku dengar suara ayam berkokok seperti hari-hari biasa.

“bangun, Bangung syakir” Teriak Ibu dengan keras.

“rapihkan pakaian dan bawa semua barangmu keluar” lanjut teriak Ibu.

“ada apa bu” Jawab Aku

“kenapa aku harus merapihkan barangku” Tanyaku kepada Ibu sambil bingung dengan keadaan ini.

Ibuku datang memeluk erat dan berkata “negeri ini memang indah bahkan penuh cinta, negeri ini pun punya penghuni, manusia yang wajahnya tak dimakan usia, bukan juga seperti bayi tanpa dosa, tapi wajah muda yang rupawan. Mereka bisa saling mencintai tanpa mengenal kebencian atau bahkan hanya merasa kebahagiaan, mereka bebas mengekspresikan rasa masing-masing. Negeri ini punya kota, berisi orang asing sebagai bos nya, memerintah untuk kepuasan dan harta, bahkan kaki sucinya tak pernah bersentuhan dengan tanah seperti halnya kita, jangan protes nak, semua itu ada di negeri tercinta yang kau sebut surga”.

Tak bisa aku berkata apa-apa, memeluk erat adalah hal yang terindah saat itu. “Hari ini tepat 10 januari 2019 adalah perampasan tanah surga yang selama ini menjadi milik kita nak” –ucap bisikan ibu kepadaku. Aku Berlari kencang keluar rumah, lalu aku lihat hampir rata dengan tanah rumah-rumah di kampungku. Bahkan rumah pohon pinggir perbatasan kota sudah tak ada, aku lihat hanya ada satu kertas berisi cerita kemarin yang belum sempat aku tulis. Tangis tumpah saat teringat kemarin adalah terakhir kali aku duduk di rumah pohon itu. Tak lagi kulihat pohon rindang buahnya, ada keluarga bermain bersama anaknya tepat di bawahnya, bahkan tak bisa ku jumpai bulan dan bintang yang sudah berjanji akan aku temui di depan rumahku yang saat ini sudah ratah dengan tanah.

“Syakir, ayo kita pergi” teriak ibuku.

“tunggu bu” Jawabku

“akan kutulis kenanganku bersama tanah surga ini sebelum beranjak pergi” Bisik dalam hatiku.

Kutulis di kertas yang kemarin belum sempat selesai, aku tulis dengan puisi yang pernah aku lihat di film sewaktu di sekolah tentang tanah surga.

“Bukan lautan hanya kolam susu. Katanya, tapi kata kakekku hanya orang-orang kaya yang bisa minum  susu….

“Kail dan jala cukup menghidupkanmu. Katanya, tapi kata kakekku ikan-ikan kita dicuri banyak negara.”

“Tiada badai tiada topan kau temui. Katanya, tapi kenapa ayahku tertiup angin ke Malaysia.”

“Ikan dan udang menghampiri dirimu. Katanya, tapi kata kakekku, awas ada udang dibali batu.”

“Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman. Katanya, tapi kata dokter intel belum semua rakyatnya sejahtera, banyak pejabat yang menjual kayu dan batu untuk membangun surganya sendiri.”

Kiranya begitu puisi yang pernah aku dengar sewaktu di sekolah. Aku taruh kertas itu di dekat tiang tiang besi yang sudah di bangun di belakang bekas rumahku sejak lama.

Sekarang tanah surgaku hanya bisa dilihat dari balik tiang-tiang besi yang diatasnya terdapat beling-beling pecahan kaca untuk berjaga-jaga agar tidak ada yang bisa melewatinya. Setiap hari pukul lima sore sambil menunggu senja, aku datang ke tepian tiang-tiang tersebut dengan berdoa agar tanah surga tetap pada pemiliknya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here