Penyucian Diri

Oleh Hasbiyani Muslimin

penyucian-diri
Image by Pezibear from Pixabay

Halo sahabat sajak!

Bagaimana kabarnya?

Semoga sehat selalu, kali ini kami akan berbagi sedikit informasi tentang Penyucian Diri. Sudah penasaran? Baik langsung saja!

Penyucian Diri – Penyucian adalah pembersihan diri. Ada dua macam pembersihan. Pertama, bagian lahir ditentukan oleh ajaran-ajaran agama dan dilaksanakan dengan cara membersihkan badan dengan air suci.

Kedua, pembersihan hati, yang dilakukan melalui pembersihan kotoran dalam jiwa seseorang, menyadari akan dosa-dosanya dan secara ikhlas menesali dosa-dosa itu (bertaubat). Permbersihan bagian dalam (hati) ini diseyogyakan menempuh jalan spiritual dan dibimbing oleh Guru spiritual.


Baca: Pengertian Puisi


Menurut kententuan dan ajaran agama, orang menjadi tidak suci dan wudhunya batal bila beberapa bagian tubuh seperti tinja, air kencing, muntah, keluar nanah, mengeluarkan dares, sperma, dan lain-lain dipaksa keluar. Jika hal-hal itu terjadi maka wajib memperbarui wudhunya. Dalam kasus seperma dan darah haid (menstruasi) maka wajib mandi besar, yakni membersihkan seluruh bagian tubuh.

Dalam kasus-kasus lain, bagian tubuh yang sering terlihat bagian tangan dan lengan bawah, bagian wajah dan kaki harus dibasuh atau dibersihkan. Tentang keharusan seseorang memperbarui wudhu, guru kita Muhammad SAW bersabda, “setiap kali seseorang memperbarui wudhu, maka Allah memperbarui keimanan hambanya (kemudian) cahaya imannya dikilapkan ulang sehingga bercahaya lebih terang” dan “mengulang pembersihan diri dengan wudhu (seperti) cahaya yang menerangi cahaya.”

Penyucian bagian dalam (hati) juga dapat hilang atau batal mungkin lebih sering daripada yang terjadi pada penyucian lahir, karena akhlak buruk, perilaku rendah, sikap dan perbuatan yang nyerempet-nyerempet bahaya seperti terlalu bangga, sombong, suka bergunjing, menfitnah, dengki dan pendendam.

Perbuatan-perbuatan yang sengaja atau tak segaja oleh anggota badan seseorang (dapat) menggerogoti rohani: mulut yang memakan makanan haram, bibir yang berbohong dan bicara kotor, telinga yang yang mendengarkan gunjingan dan umpatan, tangan yang digunakan untuk memukul, kaki untuk mengikuti orang yang zalim. Perzinahan, yang juga merupakan sebuah dosa, bukan hanya dilakukan di tempat tidur, sebagaimana sabda Nabi, “Mata juga melakukan perzinahan”.

Penyucian Diri

penyucian-diri
Image by MOHD SYAHIDEEN OSMAN from Pixabay

Bila kebersihan batin telah demikian kotor dan wudhu spiritualnya juga batal, maka memperbarui wudhu harus dengan cara bertaubat secara sungguh-sungguh, yang dilakukan dengan mengakui kesalahannya, dengan penyesalan yang di ikuti dengan tetesan air mata yang merupakan tetesan air yang membersihkan kotoran dari ruhani, dengan bertekat untuk tidak mengulangi kesalahannya, dengan bertekad bulat untuk meninggalkan semua dosa atau  maksiat, dengan memohon ampun kepada Allah, dan dengan berdo’a agar Allah melindunginya dari perbuatan dosa tersebut.


Baca: Aliran-aliran Sastra Dalam Puisi


Shalat atau doa adalah menghadirkan diri di hadapan Allah. Berwudhu, yakni keadaan suci/tidak berhadats, merupakan prasyarat untuk melakukan shalat. Orang arif tahu bahwa kesucian bagian dari belumlah cukup, karena Allah melihat ke sisi yang lebih dalam yaitu hati, yang harus didahului oleh wudhu pertaubatan. Hanya dengan itu maka shalat dan doanya dapat dikabulkan. Allah berfirman:

Inilah yang dijanjikan kepada-Mu pada setiap hamba yeng selalu kembali. (kepada Allah) dan selalu menjaga (hukum-hukum-Nya). (Surat Qaf, 32).

Penyucian bagian tubuh dan wudhu bagian lahir menurut ketentuan-ketentuan agama juga dibatasi oleh waktu, karena tidur juga bisa membatalkan wudhu. Pembersihan atau penyucian terikat oleh hari (siang dan malam) dalam kehidupan dunia ini. Penyucian dunia batin, pembersihan diri yang tak terlihat (ruhani), tidak dibatasi oleh waktu. Ia berlangsung sepanjang hidup bukan hanya kehidupan sementara di dunia ini, tetapi juga untuk kehidupan abadi di akhirat nanti.

Itulah artikel tentang penyucian diri, tinggalkan komentar jika sahabat sajak suka dengan artikel di atas. Ingin memberikan masukan? Sangat dipersilahkan! Jangan lupa berbagi informasi ini kepada teman kalian!

Syekh Abdul Qadir Jaelani, The Secret of Secrets, Sega Arsy, Bandung, 2014, 119-121.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here