Stasiun penantian
Telah menjadi saksi bisu cerita kita
Menyimpan banyak tanya
Menyimpan banyak keluh kesah

Kini kisah tersisa puing-puing kehancuran
Tak ada penyelesaian
Yang tersisa hanya penyesalan

Menyakitkan memang
Malamku habis dengan bulan-bulanan rasa kecewa
Pikiran pun tak lagi sejalan dengan hati
Kemana lagi ia akan pergi dan berpijak untuk menetap


Baca juga puisi lainnya! Terjebak Luka


Kini kisah tak lagi diukir kembali
Stasiun penantian akan kembali menikmati kesunyian
Menunggu gerbong harapan
Menanti gerbong dambaan

Biarkan gerbong yang lalu meninggalkan luka
Tanpa pamit
Hingga tak ada persiapan untuk ditinggalkan

Biarkan gerbong yang lalu memberikan pelajaran
Walau singkat
Tapi cukup banyak pesan yang dititipkan
Walau sesaat
Tapi begitu menyakitkan

Nampaknya stasiun penantian telah usang
Dia lelah melihat pertikaian yang ada
Kereta yang lalu-lalang pun bosan dibicarakan
Dia berperan dalam hidup namun tak dapat menungungkapkan atau meleraikan setiap keributan


Malu mengungkapkan isi hati, namun ingin dia mengerti? Sampaikan dengan pesan singkat di pakaianmu, Beli Sekarang! Merchandise Lelahbersajak


Keindahan sudah seharusnya hadir dan dihadirkan
Hanya diri sendiri yang mampu mengadakan segala keindahan
Walau banyak luka
Tapi tetap menikmati adalah jalan keluarnya
Agar dapat menemukan setiap keindahan

Kini harapan semakin memudar
Seiring waktu yang terus berputar
Sejalan dengan hati yang semakin teriris
Pikiran yang tak sadar
Bahwa rasa bangga berubah menjadi luka
Hanya karena kabar yang kunjung didapatkan

Iya kabar dari alam
Apakah hati ini masih pantas untuk dijadikan pemukiman
Banyak keceriaan yang hidup
Banyak kebahagiaan yang tersebar
Walau luka tak pernah absen dari setiap bahagia


Image by Free-Photos from Pixabay


Setidaknya aku ingin sedikit merasakan bahagia
Bersama gerbong sederhana
Namun dapat menjadikan hidup ini begitu sempurna

Nyatanya semua hanya ilusi duniawi
Segala indraku dibius ambisi
Yang tak pernah memperdulikan diri sendiri
Hingga karat menyebar pada setiap sisi
Hingga lumut mengikat hinggat kuat
Bahwa hidupku dinyatakan tamat
Pada harapan hampa dan kepastian palsu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here