Rampai Sajak #2

Halo sahabat sajak!

Bagaimana kabarnya?

Semoga sehat selalu, kali ini kami akan berbagi tentang Rampai Sajak #2 buah karya sahabat sajak Albi Farizki. Sudah penasaran? Baik langsung saja!

Rampai Sajak #2 – Rampai dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah campuran atau kumpulan dari berbagai macam (buku, bunga, dan sebagainya). Kali ini kami akan berbagi kumpulan sajak buah karya sahabat sajak. Banyak surel masuk ke lelahbersajak@gmail.com salah satunya dari Albi Farizki yang akan kami bagikan sekarang. Karya yang dikirim bermacam-macam, ada yang mengirim cerpen, artikel, puisi, bahkan kumpulan karyanya.

rampai-sajak-2-buah-karya-albi-farizki-kumpulan-sajak
Image by Anrita1705 from Pixabay

Baik langsung saja, inilah Rampai Sajak #2 buah karya Albi Farizki:

1

Cinta itu terlalu besar
Tidak cocok untuk kita yang lemah dalam rasional
Dan penuh kecurigaan irasional


Baca Juga: Rampai Sajak #1


2

Saya tak pernah menanyakan akan keberadaan surga
Tetpi entah mengapa tuhan kirimkan kamudari potongan terkecilnya
Tak ada niatan untuk saya mengukurnya
Karena denganmu saja
Saya dibuat menganga

 

3

Jika kau tak sanggup menyurati aku melalui keresahan
Jangan risau.. kirimi saja syair-syair kesenanganmu
Kan segera ku tangkap syair itu
Ku buat sedu sebentar
Setidaknya di dalam tangkapan ku
Kau bisa merdu dan tak lagi sendu

 

4

Ciptakan lingkaran tanpa rongga
Agar apimu tetap terjaga.

 

5

Banyak yang ingin saya sampaikan
Tetapi saya rasa senyuman dapat mewakilkan
Karena saya tahu
Engkau tak suka akan kesedihan


Baca Juga: Surga Yang Kehilangan Pemiliknya [Cerpen]


6

Sudah semusim lamanya kau masih konsisten mendampingi imaji
tuk mengisi setiap lembaran kosong di ujung pena ini
Entah sihir apa yang kau punya
Sampai-sampai tak ada ruang untuk mereka mengabstrakan keelokannya
Seolah-olah keahliannya mereka adalah kepunyaan mu juga
Aneh memang, tetapi itulah nyatannya

Nyata dalam kacamata yang tak bisa dipakai oleh mereka
Persis seperti yang disampaikan Layla untuk Majnun di muka Khalifah
ia selalu memuja dengan bahasa rembulan
Demi melukis setiap kata yang keluar dari bibir tipisnya kepada personanya
Hanya Majnun lah yang mampu melihat hamparan kebun dibalik sarinya Layla
melebihi batas kata yang berusaha mengelabuhi perjalanan misterinya

 

7

Kemarin adalah kebodohan
yang harus ditebus sedari sekarang
agar esok tak dapat memukan kesulitan
untuk menarik pelatuk dari laras panjang

8

Percayalah hanya doa yang mampu menjagamu
melebihi tangan-tangan yang menggengam erat sekujur tubuhmu

 

9

Kadang kepala ini miring ke arah kiri
Terbesit sedikit dengan keadaan negeri yang belum tertata rapi
Sebetulnya ada apa dengan negeri tercinta ku ini
Kenapa masih seperti amatiran begini
Padahal sudah lama berdiri

 

10

Belajar dari kesalahan
Agar tak terjadi kecelakaan
Yang mengakibatkan kematian.

Sejatinya belum ada yang benar-benar menjadi sahabat karib kaum singkong
Kedatangan mereka masih menjadi musiman kebutuhan
Tak murni tentang uluran tangan
Keikhlasannya masih dalam embel-embel pelukan
ternodai kepentingan akan kekuasaan
Setelah mendapatkan kehangatan

Mereka pulang meninggalkan jejak lidah yang belum terpuaskan.

Berikan kesan yang manis
Perlihatkan padannya bahwa ia benar-benar manis
Sungguh ia tak tahu akan itu.

Mengenang masih selalu menjadi kegiatan mengayikan nan mebosankan
Lantas untuk apa lagi?
Apakah kau tidak lihat bapak tua yang menempel di sana
Beribu perih ia obati
Berjuta air mata ia tadahi
Tapi akhirnya ia mati terlucut api
Semua yang kemarin dilakukan berkhir tragis
Tak perduli dengan apa yang telah dibuat manis
Kepergian selalu meninggalkan luka
Ia hanya mampu menepl di dinding tua yang menyisakan duka

Putri ialah ratu yang senang melihat saya gigit jari
Ia selalu membuat jantung berdiri
Ketika melalui lajur yang ingin ditapaki
Tetapi semua hilang oleh keramahannya
yang tak penah segan menyuguhkan seluruh kepunyaannya
kepada tamu yang mampu menggairahkan nafsunya.

Hanya Engkau dan Aku

Di atas permadani merah ku bersimpuh sejajar tanah
Meyakini engkau bersemayam di sana
Dalam kondisi menelungkup tak kuasa menengadah
Mengeringkan air yang sedari tadi bersimbah tanah,
Maaf atas kekeliruanku dalam menipumu
Begitulah fase diagramku yang bergerak tak menentu
Maklum manusia palsu
Yang masih asik bercumbu dengan debu,
Terimakasih atas kemurahanmu yang tak membenci
Meskipun berulang-ulang tersakiti
Pupus sudah segunung gundah
Disebabkan keelokanmu yang mulai memerah,
Terimalah persembahan air keruhku
Tetapi jangan kembalikan dengan kepalan batu
Karena saat ini aku hanya ingin kekal bersama kekasihmu
Cuma itu kesederhanaan inginku.

 

Itulah Rampai Sajak #2
Tinggalkan komentar jika sahabat sajak suka dengan kumpulan sajak di atas.
Ingin memberikan masukan, sangat dipersilahkan!
Jangan lupa berbagi informasi ini kepada teman kalian!
Ingin karyanya dipublis? Kirim ke Surel: lelahbersajak@gmail.com

“ORANG BOLEH PANDAI SETINGGI LANGIT, TAPI SELAMA IA TIDAK MENULIS, IA AKAN HILANG DI DALAM MASYARAKAT DAN DARI SEJARAH. MENULIS ADALAH BEKERJA UNTUK KEABADIAN”
― Pramoedya Ananta Toer

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here