Lapar Kekuasaan Lapang Kesengsaraan

Mari kita lihat negara tercinta ini
Semakin banyak oknum katanya
Yang menjilat sana-sini
Lidah yang bukan main panjangnya
Bisa menjilat siapa saja
hamba taat penjilat nikmat

Mulai dari kalangan mahasiswa sampai penguasa negara
Semua berlomba-lomba memeiliki kekuasaan
Tak ingin sedikit pun diganggu dengan aturan
karena nikmat menjadi nomor satu
Urusan perut tak boleh dicatut


Baca Juga Puisi Lainnya!: Panjang Umur Perjuangan


Inilah yang terjadi
Inilah yang terlihat
Bukan sok bijak
Bukan sok suci
Hanya merasa sedih
Hanya merasa sakit
Bahwa legalitas hanya sebatas tanda tangan di atas kertas
Legitimasi dijadikan jalan mencari kursi

Tangan di atas meja tak lagi suci
Tak lagi bersih
Berdebu, usang dan tak berprikemanusiaan

Kesengsaraan muncul ke atas permukaan
Enggan pergi
Enggan menghilang
Ia akan terus menghantui
Kekuasaan yang tak perduli akan keadilan
Kekuasaan yang buta akan kemanusiaan
Kekuasaan yang digunakan untuk menjatuhkan
Segala sisi kebaikan yang mencoba hidup

Negara tercinta ini semakin banyak memiliki warna
Namun saling pudarkan satu sama lainnya
Bicara ideologi kanan kiri sudah tak patut lagi
Tak boleh dilakukan di lorong manapun
Semua harus nurut dengan segala aturan yang tak patut

Semakin banyak warna yang mulai hilang
Bahan bicaaan yang menebalkan warna dihilangkan
DIHARAMKAN
Dijadikan barang bukti penangkapan


Baca Juga Puisi Lainnya!: Kaya Akan Masalah


Literasi dikatakan pembodohan
Literasi semakin terpinggirkan
Literatur berdebu dan usang
Literatur semakin tak berharga dan dijauhkan

Menyedihkan
Semua hilang
Kemanusiaan
Keadilan
karena lapar kekuasaan lapang kesengsaraan

Mari kita nikmati saja semuanya
Aku khawatir
Yang sadar mulai enggan berbicara
Mulai hilang dari perabadan
karena aturan pesanan
Kejam memang
Tapi semua itu adalah kenyataan

Kita harus mulai membangun kembali
Kemanusiaan yang mulai runtuh
Keadilan yang perlahan menghilang
Berkat laparnya kekuasaan
Rakyat kecil hanya bisa menerima lapang dada kesengsaraan
Setiap hari harus menjadi sarapan
Bahwa setiap perjuangan hanya sebuah kesia-siaan
Semua bisa dibeli dengan uang yang terlanjur dituhankan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here